MENULIS TANPA BATAS: KETIKA 60 GURU SD DI SEYEGAN BERTRANSFORMASI JADI PENULIS BUKU

Menjadi seorang pendidik di era Kurikulum Merdeka tentu menuntut lebih dari sekadar berdiri di depan kelas. Guru-guru Sekolah Dasar di Kapanewon Seyegan, Sleman, baru saja membuktikan bahwa kreativitas literasi bukanlah hal yang sulit diraih ketika ada bimbingan yang tepat. Di bawah komando Dr. Ary Kristiyani, S.Pd., M.Hum. dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas…

By.

•

min read

2024

Menjadi seorang pendidik di era Kurikulum Merdeka tentu menuntut lebih dari sekadar berdiri di depan kelas. Guru-guru Sekolah Dasar di Kapanewon Seyegan, Sleman, baru saja membuktikan bahwa kreativitas literasi bukanlah hal yang sulit diraih ketika ada bimbingan yang tepat.

Di bawah komando Dr. Ary Kristiyani, S.Pd., M.Hum. dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebuah gerakan literasi masif digelar sepanjang Maret hingga Mei 2024. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pengembangan Kompetensi Literasi Menulis Guru SD di Lingkungan Kepanewonan Seyegan, Sleman, para guru diajak keluar dari zona nyaman mengajar konvensional dan mulai meracik bahan ajar serta karya tulis kreatif mereka sendiri.

Ada pemandangan yang tak biasa selama pelatihan berlangsung. Sebanyak 60 guru SD bersama 30 kepala sekolah tampak antusias mengikuti metode belajar hybrid—memadukan sesi luring dan daring secara bergantian. Mereka tidak hanya dicekoki teori seputar Kurikulum Merdeka, genre teks, dan asesmen, tetapi langsung dibimbing setahap demi setahap dalam workshop penulisan teks deskripsi.

Pendekatan andragogi yang diterapkan membuat suasana kelas terasa cair dan membumi. Memanfaatkan teknologi kolaborasi seperti Google Doc, para peserta saling bertukar ide menyusun kerangka tulisan, merangkai diksi, hingga memperhalus kalimat secara bersama-sama dalam satu layar digital.

Hasilnya? Sungguh di luar dugaan. Pelatihan ini melahirkan luaran nyata berupa buku kumpulan teks deskripsi ber-HKI (Hak Kekayaan Intelektual) serta draf artikel ilmiah karya para guru sendiri. Berdasarkan lembar evaluasi, tingkat kepuasan peserta melonjak tinggi. Mereka mengaku materi yang diberikan sangat aplikatif, penyampaian narasumber mudah dicerna, dan yang paling penting: api motivasi menulis yang sempat padam kini menyala kembali.

Sinergi apik yang melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman serta Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) ini membuktikan bahwa peningkatan mutu pendidikan dasar harus dimulai dari gurunya. Agar semangat literasi ini tidak berhenti di tengah jalan, program ini merekomendasikan pembentukan komunitas belajar berkelanjutan serta ruang pertemuan rutin. Dari Seyegan, para guru kini siap menularkan virus gemar menulis kepada ribuan anak didiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *