Inovasi Oleh-Oleh Rendah Kalori, FT UNY Sulap Tahu Krapyak Jadi Produk Kuliner Berdaya Saing Tinggi

SLEMAN, UNY – Tahu Krapyak telah lama menjadi komoditas unggulan legendaris yang diproduksi secara turun-temurun oleh warga Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman. Dengan kapasitas olahan kedelai mencapai 2,5 ton per hari, potensi industri tahu lokal ini berpeluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Namun, selama ini sebagian besar produksi…

By.

•

min read

12 Mei 2025

SLEMAN, UNY – Tahu Krapyak telah lama menjadi komoditas unggulan legendaris yang diproduksi secara turun-temurun oleh warga Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman. Dengan kapasitas olahan kedelai mencapai 2,5 ton per hari, potensi industri tahu lokal ini berpeluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Namun, selama ini sebagian besar produksi tahu masih dipasarkan dalam bentuk mentah konvensional tanpa adanya diversifikasi produk kemasan oleh-oleh yang modern.

Merespons potensi besar tersebut, tim pengabdi dari Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar program “Pelatihan Produksi Oleh-Oleh Berbahan Dasar Tahu Rendah Kalori di Kampung Emas Seyegan Binaan UNY sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat”.

Inisiatif pengabdian masyarakat ini diketuai oleh dosen Pendidikan Tata Boga FT UNY, Dewi Eka Murniati, S.E., M.M., Ph.D., bersama tim akademisi UNY yang terdiri dari Dr. Martono, S.Or., M.Or., Ir. Yosep Efendi, S.Pd., M.Pd., dan Wika Rinawati, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh mahasiswa pendamping.

Ketua Tim Pengabdi UNY, Dewi Eka Murniati, S.E., M.M., Ph.D., menjelaskan bahwa pasar kuliner saat ini menunjukkan peningkatan tren permintaan terhadap makanan sehat dan praktis. Melalui sentuhan inovasi tata boga, olahan tahu Krapyak dapat dikreasikan menjadi varian oleh-oleh khas yang lezat, bernutrisi tinggi, dan rendah kalori, sehingga memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan modern.

“Kampung Emas Seyegan memiliki pilar Tahu Berkah dan Kuliner Berkah. Melalui pelatihan ini, kami tidak hanya mengajarkan teknik mengolah tahu menjadi produk oleh-oleh rendah kalori, tetapi juga memberikan pembekalan menyeluruh dari hulu ke hilir—mulai dari standar keamanan pangan, desain kemasan yang informatif dan higienis, penataan identitas merek (branding), hingga strategi pemasaran digital,” tutur Dewi Eka Murniati.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemetaan kebutuhan (needs assessment) dan diskusi partisipatif bersama para pengelola kelompok kuliner lokal. Selanjutnya, para peserta diajak mempraktikkan secara langsung teknik pembuatan kreasi oleh-oleh tahu rendah kalori, pengemasan kedap udara yang memperpanjang masa simpan, hingga penyusunan label nutrisi pada kemasan.

Pada aspek pemasaran, tim FT UNY membimbing warga untuk memanfaatkan platform media sosial dan saluran e-commerce guna menjangkau konsumen di luar wilayah Sleman. Langkah ini dibarengi dengan penguatan manajemen usaha dan kelembagaan kelompok agar produksi oleh-oleh dapat berjalan secara konsisten dan terorganisir.

Melalui sinergi berkelanjutan antara akademisi FT UNY dan masyarakat Kampung Emas Seyegan, diversifikasi olahan tahu Krapyak ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem kewirausahaan desa, menciptakan lapangan kerja baru, serta menjadikan Kampung Emas sebagai pusat oleh-oleh kuliner sehat khas Sleman yang mandiri dan berdaya saing pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *