Kuatkan Mitigasi Banjir Musiman, FISIPOL UNY Bangun Sumur Resapan dan Talud di Kampung Emas Seyegan

SLEMAN, UNY – Wilayah Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, khususnya Padukuhan Krapyak IX, kerap menghadapi ancaman luapan air dan genangan banjir saat intensitas hujan tinggi di musim penghujan. Tingginya limpasan air permukaan (surface runoff) yang tidak diimbangi oleh laju infiltrasi tanah serta keterbatasan saluran drainase menjadi pemicu utama genangan air yang mengganggu aktivitas dan perekonomian…

By.

•

min read

14 Juli 2023

SLEMAN, UNY – Wilayah Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, khususnya Padukuhan Krapyak IX, kerap menghadapi ancaman luapan air dan genangan banjir saat intensitas hujan tinggi di musim penghujan. Tingginya limpasan air permukaan (surface runoff) yang tidak diimbangi oleh laju infiltrasi tanah serta keterbatasan saluran drainase menjadi pemicu utama genangan air yang mengganggu aktivitas dan perekonomian warga.

Merespons potensi bencana hidrometeorologi tersebut, tim pengabdi dari Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik (FISHIPOL) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan program penugasan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Masyarakat dalam Menghadapi Bencana melalui Pelatihan Mitigasi Struktural Bahaya Banjir di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan”.

Program pengabdian skema PkM Institusional ini dipimpin oleh pakar geografi FISHIPOL UNY, Prof. Dr. Drs. Suhadi Purwantara, M.Si., bersama tim akademisi yang terdiri dari Dr. Nurul Khotimah, M.Si. dan Arif Ashari, M.Sc., serta didukung oleh tim mahasiswa geografi dan mahasiswa KKN UNY.

Ketua Tim Pengabdi UNY, Prof. Dr. Drs. Suhadi Purwantara, M.Si., menjelaskan bahwa penanganan banjir pedesaan memerlukan pendekatan terpadu yang memadukan edukasi kebencanaan (non-struktural) dan pembangunan fisik (mitigasi struktural) berbasis partisipasi masyarakat.

“Masyarakat adalah pihak pertama yang terdampak sekaligus garda terdepan dalam merespons bencana. Melalui pemetaan kondisi fisik wilayah dan diskusi kelompok terpumpun (FGD), kami mendampingi warga menentukan lokasi prioritas untuk pembangunan sumur resapan dan talud sebagai solusi konkret mengurangi genangan air,” terang Prof. Suhadi.

Rangkaian program yang berlangsung sejak Mei hingga September 2023 ini memuncak pada sesi pelatihan dan penyuluhan interaktif yang diikuti oleh 26 tokoh masyarakat, mulai dari Kepala Dukuh, Ketua RW, hingga Ketua RT di Krapyak IX. Warga dibekali pemahaman mengenai fungsi hidrologis sumur resapan untuk meresapkan air ke dalam tanah sekaligus konservasi cadangan air sumur saat musim kemarau.

Pascapenyuluhan, tim UNY bersama warga merealisasikan pembangunan prototype sumur resapan dan talud penguat di area kritis Kampung Emas Krapyak IX. Infrastruktur fisik ini berfungsi mengendalikan laju limpasan air hujan sekaligus membendung potensi luapan air ke pemukiman dan jalan desa.

Guna menjamin efektivitas jangka panjang, program ini melahirkan rintisan Sistem Manajemen Bencana Berbasis Masyarakat. Kelembagaan lokal ini bertugas mengelola, merawat, dan mengembangkan fasilitas mitigasi struktural secara mandiri, sehingga Kampung Emas Seyegan dapat menjadi percontohan desa tangguh bencana bagi kawasan sekitarnya di Kabupaten Sleman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *