Garap Peluang Bisnis Pernikahan, FBSB UNY Latih Warga Kampung Emas Seyegan Rintis Wirausaha Wedding Industry

SLEMAN, UNY – Industri pernikahan (wedding industry) di Daerah Istimewa Yogyakarta berkembang pesat seiring tingginya permintaan acara pernikahan modern maupun tradisional, mulai dari konsep intimate wedding, garden party, hingga traditional wedding. Potensi ekonomi yang sangat besar dari sektor ini menjadi peluang emas bagi warga Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, untuk mengorganisasikan berbagai…

By.

•

min read

17 Juni 2025

SLEMAN, UNY – Industri pernikahan (wedding industry) di Daerah Istimewa Yogyakarta berkembang pesat seiring tingginya permintaan acara pernikahan modern maupun tradisional, mulai dari konsep intimate wedding, garden party, hingga traditional wedding. Potensi ekonomi yang sangat besar dari sektor ini menjadi peluang emas bagi warga Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, untuk mengorganisasikan berbagai potensi lokal menjadi ekosistem jasa pernikahan yang profesional dan terpadu.

Guna menangkap peluang bisnis tersebut, tim pengabdi dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan program bertajuk “Pelatihan Wirausaha Wedding Industry dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Kampung Emas Dusun Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Seyegan, Sleman”.

Inisiatif pengabdian masyarakat ini dipimpin oleh Pakar Kebudayaan Jawa dan Kepewaraan FBSB UNY, Prof. Dr. Drs. Suwarna, M.Pd. (KRT. Suwarna Dwijonagoro), bersama tim pengabdi yang terdiri dari Suwardi, Cipto Budi Handoyo, Avi Meilawati, B Sri Hanjati, dan Iriana Famuji Widodo.

Ketua Tim Pengabdi UNY, Prof. Dr. Drs. Suwarna, M.Pd., menyampaikan bahwa penyelenggaraan upacara pernikahan melibatkan rantai usaha yang sangat luas, meliputi tata rias/MUA, dekorasi, katering, pewara (pranatacara), entertainment, fotografi, hingga penataan wedding organizer (WO). Di Kampung Emas Krapyak IX, potensi unit usaha tersebut sebenarnya sudah ada, namun belum terkelola secara sinergis dalam sebuah paket layanan (wedding package) yang utuh.

“Melalui pelatihan dan lokakarya ini, kami menghadirkan praktisi vendor pernikahan profesional untuk membimbing warga secara langsung. Sasaran utamanya adalah membentuk unit-unit usaha baru di Kampung Emas yang saling berkolaborasi menyajikan jasa pernikahan berdaya saing,” jelas Prof. Suwarna.

Rangkaian pelatihan melibatkan deretan praktisi dan vendor ternama di Yogyakarta sebagai mentor lapangan, di antaranya Larasati Dekor (dekorasi), HARPI (tata rias), Kaliki Fotografi (fotografi dan videografi), Bu Wasi Catering (jasa boga), Coffee Break Entertainment (musik), hingga pakar wedding organizer. Para peserta diajak mengenali manajemen usaha hulu ke hilir, teknik olah vokal kepewaraan, strategi promosi digital via media sosial, hingga simulasi penyusunan rencana bisnis.

Hasil nyata dari lokakarya ini ditandai dengan lahirnya tiga proposal wirausaha kelompok masyarakat di bidang desain baju/tata busana, Wedding Organizer (WO), dan jasa katering. Selain itu, kegiatan ini berhasil menghasilkan dokumen Implementation Agreement (IA) untuk pengembangan bisnis lokal serta memperoleh Surat Pencatatan Hak Cipta (HKI) atas karya buku “Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Wedding Industry”.

Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan lonjakan pemahaman dan minat warga yang signifikan dalam merintis usaha pernikahan. Guna menjamin keberlanjutan usaha, tim FBSB UNY berkomitmen memberikan pendampingan berkala melalui pembinaan multidisiplin dan perluasan jaringan kerja sama dengan berbagai venue serta vendor pernikahan di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *