SLEMAN, UNY – Mengubah pola pikir masyarakat desa dari pengelolaan tradisional menuju tata kelola profesional menjadi kunci utama dalam membangun destinasi wisata yang berkelanjutan. Di kawasan destinasi rintisan Kampung Emas, Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, melimpahnya potensi perikanan, pertanian, peternakan, hingga olahraga rekreasi membutuhkan sentuhan manajemen terstruktur agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi (income generating) bagi warga lokal.
Merespons kebutuhan tersebut, tim pengabdi dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan program “Pelatihan Keterampilan Manajemen Untuk Pengelolaan Desa Wisata Di Krapyak Margoagung Seyegan Daerah Istimewa Yogyakarta”.
Inisiatif pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dosen FIKK UNY, Prof. Dr. Guntur, S.Or., M.Pd., bersama tim pakar manajemen keolahragaan UNY yang terdiri dari Prof. Dr. Sriwinarni, M.Pd. dan Dr. Amat Komari, M.Pd., serta dibantu oleh tim mahasiswa.
Ketua Tim Pengabdi UNY, Prof. Dr. Guntur, S.Or., M.Pd., menjelaskan bahwa kesuksesan pengelolaan desa wisata sangat bergantung pada penguasaan empat pilar utama manajemen, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan evaluasi (evaluating). Tanpa adanya sistem standar operasional prosedur (SOP) dan strategi pemasaran yang terintegrasi, potensi besar seperti lapangan bola mini, wahana panahan, dan arena outbound di Kampung Emas sulit berkembang secara maksimal.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari pada 21–22 September 2023 ini diikuti secara penuh oleh 25 pengelola desa wisata dan tokoh masyarakat Dusun Krapyak IX. Pelaksanaan kegiatan dikemas secara interaktif melalui kombinasi pematerian teori manajemen, diskusi kelompok, hingga simulasi praktik perancangan SOP layanan di setiap wahana wisata.
Para peserta diajak membedah langsung tata cara penyusunan standar pelayanan pengunjung, penetapan indikator kepuasan wisatawan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk sistem pemasaran dan pendaftaran pengunjung secara daring (online). Melalui pendekatan ini, pengelola diingatkan pentingnya kerapian administrasi dan pelayanan ramah (service excellence) guna membangun reputasi positif Kampung Emas di mata publik.
Dampak pelatihan terasa langsung pada bergesernya pola pikir para pengelola desa wisata. Seluruh peserta yang hadir menunjukkan kedisiplinan dan antusiasme tinggi dalam merumuskan pedoman tata kelola wahana rekreasi serta merancang strategi pemasaran produk-produk lokal.
Sebagai langkah tindak lanjut, tim FIKK UNY berkomitmen memberikan pendampingan berkala guna mengawal implementasi SOP dan manajemen digital di Kampung Emas Krapyak IX. Sinergi ini menjadi bukti nyata hadirnya kampus UNY dalam mendampingi masyarakat pedesaan menuju kemandirian ekonomi yang mandiri, produktif, dan sejahtera.


Leave a Reply