Ubah Lahan Mangkrak Jadi Pusat Ekonomi, FMIPA UNY Sulap Area IPAL Kampung Emas Seyegan Jadi Destinasi Eduwisata

SLEMAN, UNY – Keberadaan Sentra Industri Tahu Krapyak (SITK) di Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, telah lama menjadi urat nadi perekonomian warga setempat. Dengan kapasitas olah mencapai 2,5 ton kedelai per hari oleh sekitar 75 pengrajin, industri ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal. Namun, keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang…

By.

•

min read

30 November 2023

SLEMAN, UNY – Keberadaan Sentra Industri Tahu Krapyak (SITK) di Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, telah lama menjadi urat nadi perekonomian warga setempat. Dengan kapasitas olah mencapai 2,5 ton kedelai per hari oleh sekitar 75 pengrajin, industri ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal. Namun, keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal yang sempat terbengkalai dan bocor justru menimbulkan persoalan lingkungan, seperti munculnya bau tidak sedap dan area yang terkesan kumuh.

Guna mengatasi persoalan pencemaran sekaligus membangkitkan potensi ekonomi desa, tim pengabdi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar program bertajuk “Pembangunan Sarana dan Prasarana Pendukung Pusat Kawasan Ekonomi Masyarakat Kampung Emas Padukuhan Krapyak IX, Margoagung, Seyegan, Sleman, D.I. Yogyakarta”.

Inisiatif pengabdian institusional ini diketuai oleh pakar ekologi FMIPA UNY, Prof. Dr. Tien Aminatun, S.Si., M.Si., bersama tim ahli teknik konstruksi Fakultas Teknik UNY yang terdiri dari Ir. Faqih Ma’arif, M.Eng., Ph.D. dan Dr. Drs. Ir. Darmono, M.T., serta melibatkan 15 mahasiswa lintas program studi.

Ketua Tim Pengabdi UNY, Prof. Dr. Tien Aminatun, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk merevitalisasi area IPAL yang rusak dan lahan kosong sekitarnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru (Kafe IPAL Kampung Emas) yang ramah lingkungan.

“Kami menggabungkan solusi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi. Kebocoran gas dan limbah cair IPAL ditangani secara teknis agar tidak berbau, sementara lahan di sekitarnya kita manfaatkan secara optimal menjadi sarana budidaya perikanan, ruang terbuka hijau, dan fasilitas penunjang wisata,” terang Prof. Tien.

Melalui kerja bakti sukarela bersama 25 warga setempat selama empat bulan, tim FMIPA UNY berhasil merealisasikan berbagai fasilitas sarana dan prasarana vital di lapangan:

  1. Pembangunan 18 Kolam Ikan Air Tawar (Mino Berkah) dengan memanfaatkan pembangunan talud batu kali sepanjang 50 meter di tepi saluran air, kolam ini mampu menampung sekitar 18.000 bibit ikan sebagai komoditas unggulan dan sumber pendapatan tambahan warga.
  2. Penanganan Bau dan Konservasi Biogas dengan memperbaiki kebocoran ground tank IPAL dengan 12 penutup plat besi kedap udara serta merevitalisasi bak digester menjadi instalasi biogas yang siap dimanfaatkan warga untuk energi memasak dan penerangan.
  3. Fasilitas Umum dan Wisata melalui pendirian dua unit gazebo khas model kandang sapi bergaya tradisional, satu unit toilet permanen, jembatan akses masuk kawasan, serta merapikan area parkir dan tempat bersantai pengunjung.

Kehadiran sarana dan prasarana baru ini terbukti mengubah wajah kawasan bekas IPAL yang semula kumuh menjadi arena rekreasi, kuliner, dan edukasi lingkungan yang asri dan nyaman.

Guna menjaga keberlanjutan program, tim UNY mendorong pembentukan pengelola lokal mandiri yang akan mengintegrasikan potensi Mino Berkah, kuliner olahan tahu, serta spot foto budaya menjadi paket wisata edukasi unggulan di Kampung Emas Seyegan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *