SLEMAN, UNY – Di balik tenangnya bentang alam Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, sedang berlangsung sebuah transformasi sosial yang tenang namun mendasar. Kawasan rintisan yang dahulu mencatatkan tingkat pendidikan dan ekonomi di bawah rata-rata ini kini melangkah mantap meneguhkan identitasnya sebagai Kampung Emas—sebuah laboratorium desa wisata terpadu binaan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang memadukan kearifan lokal, kebugaran fisik, dan penguatan literasi.
Melalui sinergi akademisi Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNY di bawah arahan Dr. Hedi Ardiyanto Hermawan, S.Pd., M.Or., Kampung Emas Margoagung dirancang bukan sekadar sebagai destinasi singgah bagi wisatawan, melainkan sebagai healing environment—lingkungan pemulihan yang menyehatkan jiwa, raga, dan taraf hidup warganya secara berkelanjutan.
Pembangunan ekosistem Kampung Emas ini ditopang oleh tiga pilar utama yang saling bertautan, yakni Pendidikan Berkah, Olahraga Berkah, dan Pangan Berkah. Melalui Pendidikan Berkah, anak-anak desa tidak hanya diajak membaca di Pojok Baca pendopo kampung, melainkan dikenalkan pada lingkungan tempat mereka tumbuh melalui Gerakan Literasi Margoagung (GLM). Industri rumahan Tahu Kuning yang menjadi kearifan lokal Krapyak IX diangkat menjadi media pembelajaran tematik interaktif, sehingga generasi muda tumbuh dengan rasa bangga dan paham akan potensi desanya sendiri.
Sementara itu, pilar Olahraga Berkah merespons isu kesehatan mental dan kepenatan psikologis masyarakat modern. Mengoptimalkan area terbuka hijau dan sarana outbound pedesaan, kegiatan olahraga dikemas secara rekreatif dan terapeutik guna mereduksi stres serta membentuk pola hidup aktif. Kebugaran fisik tersebut disempurnakan oleh pilar Pangan Berkah, sebuah gerakan literasi gizi untuk mencegah stunting sejak dini. Peningkatan nilai ekonomi dari olahan Tahu Berkah diarahkan kembali untuk mengedukasi warga mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil dan anak-anak.
Perubahan sudut pandang warga menuju kemandirian ini menjadi pijakan utama dalam mewujudkan visi Generasi EMAS (Elok, Mandiri, Aktif, Sejahtera). Keberadaan kelembagaan lokal yang solid, aktivitas literasi yang hidup di pendopo desa, serta kemandirian ekonomi berbasis produk lokal memastikan kawasan ini terus bergerak secara swadaya. Kolaborasi berkelanjutan antara UNY, pemerintah daerah, dan warga Seyegan menegaskan bahwa penguatan desa wisata sejatinya dimulai dari membangun manusianya terlebih dahulu.


Leave a Reply