SLEMAN — Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan Inovasi Penelitian tahun 2026 terus berupaya memperkuat potensi lokal di daerah. Kali ini, program bertajuk penguatan identitas Kampung Emas Seyegan sukses dilaksanakan di bawah kepemimpinan Dr. Satya Perdana, S.S., M.A. dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan.
Program ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan Kampung Emas Seyegan karena hadir untuk menjawab tantangan rendahnya literasi digital di kalangan siswa sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal. Pelaksanaan program dirancang secara sistematis dengan menggunakan pendekatan Community Based Participatory Research. Rangkaian kegiatan meliputi tahap sosialisasi, empat sesi pelatihan intensif, pendampingan lapangan, evaluasi, hingga perumusan keberlanjutan. Dalam pelatihan ini, penggunaan aplikasi kreatif seperti Canva dan CapCut dipilih agar proses belajar terasa lebih praktis, menarik, dan sesuai dengan karakter peserta didik. Dengan menyasar 50 siswa kelas 4 hingga 9, kegiatan ini juga memperkuat orientasi pendidikan serta proses regenerasi budaya sejak usia sekolah.
Berdasarkan laporan kemajuan yang telah mencapai sekitar 70 persen pelaksanaan, program ini terbukti memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Sebanyak 42 draf konten individu berhasil diciptakan oleh peserta, dengan rincian 12 konten digital final yang terdiri dari tujuh poster informatif menggunakan Canva dan lima video kreatif menggunakan CapCut. Seluruh konten digital tersebut telah dipublikasikan melalui media sosial resmi Kampung Emas untuk membantu memperkenalkan berbagai potensi wisata dan budaya lokal, seperti Pendopo Gamelan, sentra ukir emas, hingga ragam kesenian setempat. Tercatat, rata-rata keterlibatan publik mencapai sekitar 310 tayangan per konten yang diunggah.
Keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat dalam program ini berjalan secara kolaboratif dan sinergis. Para siswa tampak sangat aktif mengikuti seluruh rangkaian pelatihan serta praktik dokumentasi lapangan. Peran serta juga datang dari para guru yang bertindak sebagai co-fasilitator, dukungan penuh Pemerintah Kalurahan Margoagung dalam penyediaan lokasi serta narasumber budaya, hingga pendampingan langsung di lapangan oleh komunitas seni lokal. Sebanyak 28 siswa turut dilibatkan secara langsung dalam pendampingan di situs-situs budaya, dengan tingkat kehadiran peserta pada sesi pelatihan yang tercatat sangat tinggi, yakni rata-rata mencapai 92 persen.
Keberlanjutan program lanjutkan berupa pembentukan cikal bakal komunitas bertajuk “Pewaris Digital Kampung Emas” yang beranggotakan 28 siswa aktif. Komunitas ini dirancang memiliki sistem yang berkelanjutan melalui rencana rotasi kepemimpinan siswa, pelaksanaan monitoring triwulanan, penyelesaian sisa konten, serta evaluasi literasi digital secara berkala guna memastikan keterampilan para peserta terus berkembang.
Menggabungkan unsur literasi digital, storytelling budaya, serta pemanfaatan teknologi kreatif, program ini menghadirkan inovasi baru dalam promosi wisata daerah. Kolaborasi yang erat antara pihak universitas, sekolah, pemerintah kalurahan, komunitas seni, dan para siswa membuka peluang besar bagi pengembangan promosi wisata budaya Kampung Emas agar menjadi lebih luas, autentik, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan jejaring media sosial resmi.


Leave a Reply