SLEMAN — Menghidupkan kembali denyut seni tradisi di tengah masyarakat kini menemukan jalurnya melalui kreativitas anak-anak usia dini. Dosen Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr. Drs. Cipto Budy Handoyo, M.Pd., sukses memimpin program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang membangkitkan kembali kesenian ketoprak yang sempat mati suri selama sepuluh tahun terakhir di Kampung Emas Krapyak IX, Margoagung, Seyegan, Sleman. Berlangsung dari Mei hingga Agustus 2024 dengan dukungan pendanaan DIPA UNY, program bertajuk Pembinaan Ketoprak Anak di Kampung Emas Krapyak IX, Margoagung, Seyegan, Sleman ini berhasil mencuri perhatian publik.
Pelaksanaan program dirancang secara sistematis melalui metode pelatihan langsung dan teknik role playing yang ramah anak. Anak-anak tingkat Sekolah Dasar kelas 4 dan 5 diajak menyelami dunia teater tradisional dengan membawakan lakon berjudul “Minak Jingga Lena” dalam format yang lebih ringkas dan menarik. Proses latihan yang intensif terbayar lunas ketika mereka tampil percaya diri dan penuh penghayatan di atas panggung Pendopo Kampung Emas pada 31 Agustus 2024. Pementasan kolosal ini dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, Direktur, Dekan, Kepala Dusun, serta ratusan warga yang memadati lokasi acara.
Dampak positif dari kegiatan ini langsung dirasakan oleh anak-anak maupun lingkungan sekitar. Para peserta merasa sangat senang, tingkat kepercayaan diri mereka melonjak drastis, dan mereka mampu menguasai dialog berbahasa Jawa dengan baik. Program ini juga menjadi kelanjutan sukses dari pembinaan karawitan anak sebelumnya, memperkuat identitas Kampung Emas sebagai pusat seni bertajuk “Seni Berkah”.
Keterlibatan masyarakat berjalan sangat harmonis dan bergotong royong. Anak-anak tampil sebagai aktor utama yang totalitas, sementara para orang tua hadir memberikan dukungan penuh moral maupun tenaga, termasuk keterlibatan warga dalam menyediakan konsumsi bagi penonton dan pengisi acara. Sinergi yang apik ini turut melibatkan dukungan sponsor dari pihak perbankan.
Evaluasi pelaksanaan menunjukkan hasil yang sangat memuaskan tanpa kendala berarti. Sebagai rekomendasi untuk masa depan, kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dengan perencanaan tata panggung yang lebih matang, termasuk penambahan layar latar adegan dan pengaturan akses keluar-masuk pemain yang lebih rapi.
Melalui inovasi pengenalan seni ketoprak sejak dini serta pelestarian bahasa Jawa yang dikemas menyenangkan, kolaborasi erat antara akademisi UNY, masyarakat, dan berbagai pihak ini sukses membuka potensi besar bagi pengembangan wisata budaya dan pelestarian kesenian tradisional di Kampung Emas.


Leave a Reply