SLEMAN, UNY – Mengapa sebuah usaha kuliner ramai pembeli tetapi pemiliknya tetap kesulitan memetik keuntungan yang pasti? Pertanyaan klasik ini kerap menjadi momok bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pedesaan. Banyak wirausahawan lokal yang menentukan harga jual hanya berdasarkan perkiraan kasar atau sekadar mengira-ngira modal, tanpa memperhitungkan akumulasi biaya bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya tak terduga (overhead).
Melihat fenomena tersebut, Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) turun tangan secara langsung melalaui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Efektivitas Produksi Untuk Mendukung Daya Melaba UMKM Melalui Kegiatan Pelatihan Perhitungan Harga Pokok Produksi dan Sosial Media Marketing pada Kampung Emas Seyegan”.
Inisiatif pengabdian ini dipimpin oleh dosen D4 Akuntansi Fakultas Vokasi UNY, Adeng Pustikaningsih, S.E., M.Si., bersama tim pakar akuntansi dan pemasaran lintas disiplin, yakni Indarto Waluyo, S.E., M.Acc., CPA.Ak., Merinda Noorma Novida Siregar, S.Pd., M.Pd., Bambang Suprayitno, S.E., M.Sc., dan Ahmad Samlawi, S.E., M.Si., serta dibantu tim mahasiswa.
Ketua Tim Pengabdi UNY, Adeng Pustikaningsih, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kesehatan finansial suatu UMKM diukur dari “daya melaba”—sebuah kemampuan usaha untuk menghasilkan margin keuntungan secara stabil dan terukur. Di Kampung Emas Krapyak IX Seyegan, berbagai unit usaha kuliner warga seperti kelompok olahan tahu, keripik pisang, hingga produk olahan unggas sebetulnya memiliki kualitas produk dan kemasan yang memikat. Namun, ketidakakuratan dalam memformulasi Harga Pokok Produksi (HPP) serta metode pemasaran yang masih bergantung pada jalur konvensional membuat potensi margin keuntungan mereka sering menguap begitu saja.
Suasana pelatihan yang digelar di kawasan Kampung Emas Seyegan berlangsung hidup dan interaktif. Sebanyak 35 peserta yang terdiri dari pemilik UMKM lokal dan pemuda padukuhan diajak melakukan praktik langsung membedah struktur biaya produksi usaha masing-masing. Tim pengabdi membimbing warga menguraikan komponen biaya secara presisi, mulai dari pemilahan porsi bahan baku, porsi beban listrik dan transportasi, hingga margin laba ideal sebelum menetapkan harga jual di pasaran.
Tak berhenti pada penataan finansial internal, pelatihan ini juga membekali peserta dengan “senjata” pemasaran digital. Tim Vokasi UNY mengajarkan strategi memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk memperluas jangkauan pasar di luar area lokal. Peserta diajarkan cara mengemas narasi produk (storytelling), membuat foto produk yang menarik dengan gawai pribadi, hingga menggunakan tagar (hashtag) yang tepat agar produk kuliner buatan Krapyak IX lebih dikenal oleh calon konsumen luas.
Antusiasme peserta terlihat jelas dari keaktifan mereka saat berkonsultasi mengenai kendala penetapan harga dan pembuatan akun bisnis. Berdasarkan angket evaluasi usai pelatihan, mayoritas peserta menilai materi yang disajikan sangat relevan dan menjawab kebutuhan nyata usaha mereka. Para pemuda desa yang terlibat juga menyambut positif ilmu pemasaran digital ini karena memberi mereka ruang untuk menjadi content creator pemasar produk lokal kalurahannya sendiri.
Untuk memastikan ilmu yang diberikan benar-benar membawa perubahan positif, tim Fakultas Vokasi UNY berkomitmen memberikan pendampingan intensif selama lima bulan ke depan. Sesi pendampingan berkala ini difokuskan pada pengawalan pencatatan HPP mandiri serta pendampingan pembuatan konten promosi mingguan di media sosial. Melalui langkah terpadu dari kampus Vokasi UNY ini, UMKM Kampung Emas Krapyak IX Seyegan kini tak sekadar berproduksi, tetapi juga siap naik kelas menjadi usaha yang sehat, efisien, dan berdaya saing tinggi.


Leave a Reply