SLEMAN, UNY – Pergeseran tren pariwisata global dari wisata massal (mass tourism) menuju wisata alternatif (alternative tourism) berbasis kearifan lokal membawa angin segar bagi pengembangan desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di kawasan rintisan Kampung Emas, Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman, kekayaan tradisi budaya dan pesona alam pedesaan menjadi modal utama untuk menarik minat wisatawan yang mendambakan pengalaman rekreasi yang autentik.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, tim peneliti dari Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menerjunkan riset dan aksi pendampingan bertajuk “Kontribusi Mahasiswa Prodi Pengelolaan Usaha Rekreasi dalam Pengembangan Pariwisata Kampung Emas Seyegan”.
Riset skema Research Group ini dipimpin oleh akademisi Fakultas Vokasi UNY, Prof. Dr. Nurhadi Santoso, S.Pd., M.Pd., bersama tim dosen yang terdiri dari Dra. Sri Mawarti, M.Pd., Fiki Sa’adah, M.Pd., Ratna Kumala Setyaningrum, M.Or., dan Galih Dewanti, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa program studi Sarjana Terapan (D4) Pengelolaan Usaha Rekreasi (PUR) UNY.
Ketua Tim Peneliti UNY, Prof. Dr. Nurhadi Santoso, M.Pd., menjelaskan bahwa riset berbasis survei kuantitatif dan analisis kebutuhan ini bertujuan memetakan aset budaya lokal sekaligus mengukur bentuk kontribusi nyata mahasiswa perguruan tinggi dalam mengawal rintisan desa wisata.
“Kapanewon Seyegan memiliki cagar budaya seperti Situs Klaci, kesenian tradisi yang mengakar kuat seperti Jathilan Turangga Budaya, Karawitan Adhem Ayem, hingga Ketoprak Mudha Wirama, serta upacara adat Bersih Desa Tuk Si Bedhug dan Mbah Bregas. Tugas akademisi dan mahasiswa adalah mendampingi warga mengemas aset berharga ini menjadi paket wisata rekreasi yang nyaman dan bernilai ekonomi,” terang Prof. Nurhadi.
Hasil riset mengidentifikasi dua faktor kunci dalam pengembangan Kampung Emas Seyegan, yakni pemenuhan kelengkapan sarana-prasarana umum demi kenyamanan pengunjung serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi digital utama. Dalam hal ini, mahasiswa PUR UNY mengambil peran strategis sebagai agen perubahan (agent of change) yang merancang strategi promosi digital interaktif untuk menjangkau wisatawan generasi muda.
Keberlanjutan pengembangan Kampung Emas Seyegan dikawal melalui pendekatan model Pentahelix yang menyinergikan akademisi, masyarakat lokal, pemerintah, pelaku bisnis, dan media massa. Melalui peran akademisi Vokasi UNY, warga pendamping desa wisata dibina secara berkala dalam hal standardisasi proses bisnis, tata kelola daya tarik wisata, hingga sertifikasi keterampilan SDM.
Kolaborasi terpadu yang mengintegrasikan olahraga rekreasi, agribisnis, dan seni budaya ini diharapkan mampu menjadikan Kampung Emas Seyegan sebagai destinasi wisata edukasi-budaya unggulan yang mandiri dan berdaya saing di Kabupaten Sleman.

Leave a Reply