SLEMAN, UNY – Tumpukan kotoran ternak dan aroma menyengat yang kerap mengganggu lingkungan kini tak lagi menjadi beban bagi para peternak di Padukuhan Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman. Lewat sentuhan inovasi dan manajemen berbasis kewirausahaan, limbah yang tadinya menjadi pemicu pencemaran lingkungan kini berhasil disulap menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Transformasi berwawasan lingkungan ini diinisiasi oleh tim pengabdi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program “Peningkatan Manajemen Pengelolaan Limbah Ternak Berbasis Kewirausahaan di Kampung Emas Seyegan Krapyak IX, Margoagung, Seyegan, Sleman”.
Program skema PkM Institusional ini dipimpin oleh Dr. Arwan Nur Ramadhan, S.Pd., M.Pd. (FEB UNY), bersama tim dosen lintas disiplin yakni Andik Asmara, M.Pd., Ph.D., Eko Prianto, M.Eng., Ilham Ramadan Pandu Setia Negara Siregar, M.A.B., dan Dr. Hamdhan Djainudin, M.Pd., serta didukung oleh tim mahasiswa pendamping.
Solusi Hijau Atasi Pencemaran Lingkungan
Ketua Tim Pengabdi UNY, Dr. Arwan Nur Ramadhan, S.Pd., M.Pd., menerangkan bahwa tingginya aktivitas peternakan sapi dan kambing di Krapyak IX selama ini menyisakan persoalan serius terkait penumpukan kotoran dan urin ternak. Tanpa penanganan yang terstruktur, limbah tersebut berpotensi mencemari sumber air tanah, menimbulkan bau tak sedap, hingga mengganggu kenyamanan warga.
“Kami datang tidak hanya membawa solusi kebersihan, tetapi juga memadukannya dengan konsep kewirausahaan (eco-entrepreneurship). Limbah ternak yang dikelola secara tepat justru menyimpan potensi besar untuk menambah pendapatan keluarga peternak,” ujar Dr. Arwan.
Melalui pendekatan technical assistance serta skema training and workshop, sembilan peternak lokal dilatih mempraktikkan teknologi sederhana pengelolaan limbah:
- Penerapan Fermentasi Bakteri Pengurai dengan mengolah kotoran padat menjadi pupuk kompos organik berkualitas tinggi untuk mengurangi bau secara drastis.
- Pembangunan Sistem Drainase Kandang dengan memastikan limbah cair dan urin tidak menggenang di area kandang, melainkan dialirkan menuju tangki penampungan.
- Pengolahan Pakan Alternatif dengan memanfaatkan teknik fermentasi untuk menekan biaya pakan harian ternak.
Dampak Nyata dan Sentuhan Pemasaran Digital
Hasil pendampingan lapangan menunjukkan perubahan yang sangat nyata. Sebanyak 90% peternak mitra kini telah secara mandiri menerapkan sistem drainase kandang yang sehat serta aktif mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik terkemas. Kebersihan area peternakan meningkat pesat dan aroma tidak sedap di sekitar pemukiman berkurang secara drastis.
Tidak berhenti pada proses pembuatan pupuk, tim FEB UNY juga membekali para peternak dengan strategi pemasaran digital. Produk pupuk organik hasil olahan warga diajarkan untuk dipasarkan secara kolektif melalui platform marketplace dan media sosial menggunakan smartphone.
Menuju Desa Percontohan Peternakan Berkelanjutan
Untuk menjaga konsistensi dan kemandirian usaha, UNY berkomitmen melanjutkan kunjungan pendampingan serta penguatan kelembagaan kelompok peternak. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan Krapyak IX Margoagung Seyegan sebagai desa percontohan dalam pengelolaan peternakan berkelanjutan—di mana lingkungan tetap bersih dan peternak makin sejahtera.


Leave a Reply